Pengertian Zakat secara rinci terbaru 2019



•      Pengertian Zakat
Menurut Bahasa; kata zakat berarti:
•      النماء  = tumbuh, berkembang
•      الزيادة = bertambah
•      الطهارة = membersihkan
•      التزكية = suci
•      البركة = berkat, bermanfaat
•      الصلح = damai, sejahtera
•      المدح = pujian
–     Menurut Istilah (syara’)
–     Zakat adalah kadar harta yang tertentu, diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu pula.
–     Mengeluarkan bagian tertentu dari harta yang tertentu yang mencapai nisab diberikan kepada mustahiq (yang berhak). (Malikiyah)
–     Memilikkan bagian harta tertentu kepada orang tertentu menurut ketentuan syara’ untuk memperoleh keredhaan-Nya. (Hanafiyah)
–     Nama bagi sesuatu yang dikeluarkan dari harta atau badan menurut cara yang ditentukan. (Asy-Syafi’iyah)
–     Hak yang wajib pada harta tertentu yang diberikan kepada kelompok/golongan tertentu pada waktu tertentu pula. (Hanabalah)
•      Istilah-istilah dipakai untuk zakat
–     الزكاة
–     الصدقة
–     الإنفاق
–     حق
•      Tujuan Zakat
–     Tujuan utama zakat adalah mentaati perintah Allah swt dan menunjukkan rasa syukur kepada Allah swt
•      Tujuan secara individual
–     Mensucikan jiwa dari sifat kikir
–     Mendidik berinfak dan memberi
–     Berakhlak dengan akhlak Allah
–     Manifestasi syukur atas nikmak Allah
–     Mengobati hati atas cinta dunia
–     Mengembangkan kekayaan batin
–     Menarik rasa simpati atau cinta memberishkan harta
•      Tujuan secara sosial
–     Mengurangi  kemiskinan
–     Meningkatkan kesejahtaraan umat
–     Menanamkan rasa kasih sayang
–     Memperkuat persaudaraan
–     Memperbaiki hubungan sesama umat
–     Mengatasi umat yang terkena bencana alam
•      Hikmah zakat
•      Pertama, Zakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para mustahiq, terutama fakir-miskin. Termasuk di dalamnya membantu di bidang pendidikan, kesehatan dan kegiatan ekonomi. Di antara persoalan dunia saat ini:
–     Kesenjangan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin : hasil riset the New Economics Foundation dan Human Development Report 2006
–     Riset Anup Shah (2008): 3 milyar manusia hidup dengan pendapatan di bawah 2 dolar AS/hari, 1 dari 2 anak hidup dalam kemiskinan, dan GDP 41 negara miskin sama dengan kekayaan 7 orang terkaya di dunia.
–     Daya beli kelompok miskin Indonesia yang semakin menurun upah riil petani turun 0,2%, upah riil buruh bangunan turun 2%, pembantu rumah tangga turun 0,5% dan tukang potong rambut turun 2,5% (belum lagi ditambah dengan efek kenaikan BBM).
•      Kedua, Zakat terkait dengan etos kerja.
–     “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1) (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3) dan orang-orang yang menunaikan zakatnya (4).” (QS. Al-Mukminun: 1-4).
•      Ketiga, Zakat terkait dengan etika bekerja dan berusaha, yakni hanya mencari rizki yang halal.
–     "Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shadaqah yang ada unsur tipu daya". (HR. Muslim).
•      Keempat, Zakat terkait dengan aktualisasi potensi dana untuk membangun umat, seperti untuk membangun sarana pendidikan yang unggul tetapi murah, sarana kesehatan, institusi ekonomi, institusi publikasi dan komunikasi serta yang lainnya.
•      Kelima, Zakat terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan sosial. Artinya, kesediaan ber-ZIS ini akan mencerdaskan untuk mencintai sesamanya, terutama kaum dhu‟afa.
Keenam, Zakat akan mengakibatkan ketenangan, kebahagiaan, keamanan dan kesejahteraan hidup. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103
•      Ketujuh, Zakat terkait dengan upaya menumbuhkembangkan harta yang dimiliki dengan cara mengusahakan dan memproduktifkannya. “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum: 39).
•      Kedelapan, Zakat juga akan menyebabkan orang semakin giat melaksanakan ibadah mahdlah, seperti shalat maupun yang lainnya. “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah: 43).
•      Kesembilan, mencerminkan semangat “sharing economy”.
•      Trend dunia saat ini menuju “sharing economy”
•      Prof Yonchai Benkler (Harvard University): sharing atau semangat berbagi merupakan modalitas yang paling penting untuk meningkatkan produksi ekonomi
•      Semangat “berbagi”: solusi untuk mengatasi masalah ekonomi termasuk resesi (Swiercz dan Smith, Georgia University)
•      supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS 59: 7)
Kesepuluh, Zakat sangat berguna dalam mengatasi berbagai macam musibah yang terjadi, seperti di Aceh, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan juga musibah yang terjadi sekarang ini. Hanya saja, hal-hal tersebut tidak mungkin bisa diaplikasikan, kecuali melalui amil zakat yang amanah, transparan dan bertanggungjawab
•      Kedudukan Zakat dalam Islam
–     Zakat adalah salah satu dari rukun Islam
–     Zakat menjadi wahana untuk menetralisir hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketidak harmonisan kehidupan bermasyarakat juga kesejahteraan hidup masyarakat itu sendiri.
–     Dengan zakat juga mengantarkan orang-orang muslim kearah yang lebih mulia.
•      Dasar Kewajiban dan Pelaksanaan Zakat
–     Alqur’an
–     Sunnah
–     Ijma’
–     Qiyas
Alqur’an
–     Dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah menyebut masalah zakat sebanyak 30 kali dan di antaranya 27 ayat yang menyandingkan kewajiban zakat bersamaan dengan kewajiban shalat dalam satu tempat (lihat misalnya surah al-Baqarah [2]: 83, 110; An-Nisa[4]:77; At-Taubah [9]:5,11,18,71; Maryam[19]:31,55; Al-Anbiya[21]: 73; Al-Hajj[22]:41; An-Nur[24]:55-56; An-Naml[27]:3; dan Lukman[31]:4).
–     Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh lagi mendirikan shalat dan membayar zakat, untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa ketakutan atas mereka dan tiada rasa berduka cita bagi mereka. (QS 2: 277)
–     Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS 2: 267
–     "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah: 60).
–     “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Sunnah
–     عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » (رواه البخارى ومسلم).
–     Hadis diterima dari Ibn Umar r.a. Beliau berkata, Rasulullah saw bersabda: Islam ditegakkan di atas lima perkara: pengakuan (syahadat) bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, Haji dan puasa Ramadhan (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
–     عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - بَعَثَ مُعَاذًا - رضى الله عنه - إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ « ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ » رواه البخارى
–     At-Taubah: 103).

•      Ijma’
–     Dari dahulu sampai sekarang ulama sepakat bahwa Zakat diwajibkan dalam Islam, tidak ada satupun ulama yang berbeda pendapat tentang hal ini.
•      Qiyas
–     Hasil usaha atau harta kekayaan orang muslim yang berkembang bilamana tidak terdapat dalilnya secara khusus dalam Alqur’an dan Sunnah, maka ditetapkan dengan qiyas.
•      Sejarah Zakat
Sebelum Islam
–     Sudah diyari’atkan dalam agama-agama/ umat terdahulu
–     Bersifat anjuran, tidak merupakan kewajiban
–     Tidak diperinci bentuk dan tatacaranya
•      Ahmad Azhar Basyir: zakat sudah pernah dilaksanakan sebelum kedatangan agama Islam. Kegiatan yang dilakukan yang berbentuk seperti zakat telah dikenal di kalangan bangsa-bangsa Timur kuno di Asia, khususnya di kalangan umat beragama.
•      Dalam syariat Nabi Musa AS, zakat sudah dikenal, tetapi hanya dikenakan terhadap kekayaan yang berupa binatang ternak, seperti sapi, kambing, dan unta. Zakat yang wajib dikeluarkan adalah 10 persen dari  nisab yang ditentukan.
•      Bangsa Arab jahiliyah mengenal sistem sedekah khusus, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah Al-An’am ayat 136.
–     Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, bentuk-bentuk zakat juga pernah dilakukan pada zaman dahulu kala. Orang-orang kaya dulu memiliki kepedulian terhadap orang-orang miskin. Mengutip pernyataan Prof Mohd Farid Wajdi, pengarang  Dairah al-Ma’arif al-Qarn al-Isyrin , Al-Qaradhawi mengatakan, ”Pada bangsa apa pun peneliti mengarahkan perhatiannya, ia hanya akan menemukan dua golongan manusia yang tidak ada ketiganya, yaitu golongan yang berkecukupan dan golongan yang melarat. Golongan yang berkecukupan selalu semakin makmur dan yang melarat semakin kurus hingga tercampak ke tanah.”
–     Di Mesir kuno yang merupakan surga dunia ketika itu, apa saja tumbuh sehingga penduduknya dapat makan. Tapi, golongan miskin tidak bisa mendapatkan apa-apa. Ketika terjadi kelaparan pada masa Dinasti XII, orang miskin menjual diri mereka kepada orang kaya sehingga mereka makin susah dan banyak yang dijadikan budak.Di Babilonia (Persia), keadaan sama persis dengan Mesir. Di Yunani, orang kaya hanya meninggalkan tanah-tanah yang tidak bisa ditanami lagi oleh orang melarat.
Di Athena, orang kaya menilai, orang miskin bisa dijadikan budak apabila tidak mampu mempersembahkan hadiah kepada majikannya. Sedangkan, di Roma, orang kaya melakukan diskriminasi terhadap rakyat kecil. Mereka tidak akan diberi makan sebelum bekerja keras. Bahkan, ketika kekaisaran Romawi hancur dan digantikan dengan kerajaan Eropa, nasib orang miskin juga semakin parah. Mereka diperlakukan seperti binatang.
•      Pada dasarnya, semua agama, Samawi (langit) maupun Ardhi (agama ciptaan manusia), memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang miskin. Semua agama memandang, tanpa persaudaraan antara yang kaya dan miskin, tidak akan terwujud kesejahteraan masyarakat. Mereka saling membutuhkan sehingga tercipta keserasian dan keseimbangan.
•      Di lembah eufrat (Tigris) sekitar 4000 tahun Sebelum Masehi (SM) ditemukan seorang tokoh yang punya kepedulian dalam masalah sosial. Namanya Hammurabi, orang pertama yang menyusun peraturan-peraturan tertulis–dan masih bisa dibaca sekarang ini–berkata bahwa Tuhan mengirimnya ke dunia ini untuk mencegah orang-orang kaya bertindak sewenang-wenang terhadap orang lemah, membimbing manusia, dan menciptakan kemakmuran buat umat manusia.
•      Dan, beribu tahun sebelum masehi, seperti dikatakan Karel Sjobanz, orang Mesir kuno selalu merasa menyandang tugas agama sehingga mengatakan, ”Orang lapar, aku beri roti. Orang yang tidak berpakaian, kuberi pakaian. Kubimbing kedua tangan orang-orang yang tidak mampu berjalan ke seberang dan aku adalah ayah bagi anak-anak yatim, suami bagi janda-janda, dan tempat menyelamatkan diri bagi orang-orang yang tertimpa hujan badai.”
•      Dan, agama-agama langit tentu saja lebih kuat dan lebih dalam lagi mendorong tingkat kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat. Agama mengajarkan orang yang mampu untuk menolong yang miskin, yang kuat menolong yang lemah, dan yang sehat menolong yang sakit.

•      Dalam Islam
–     Pada periode Makkah
•      Peritah bersifat umum, dalam bentuk anjuran berinfaq
•      Sasarannya fakir miskin saja
–     Pada Periode Madinah
•      Diwajibkan pada Tahun ke-2 Hijriyah
•      Perintahnya sudah dirinci dan ditentukan tatacaranya, baik melalui Alqur’an maupun Hadis
–     Pada Periode Khulafa Ar-Rasyidin
•      Abu Bakar
•      Umar bin Khattab
•      Usman bin Affan
•      Ali bin Abi Thalib
–     Pada Periode Umayyah
•      Umar bin Abdul Aziz
–     Pada Periode Abbasyiyah
–     Pada Periode Modern
•      Banyak usaha atau produk yang dikembangkan yang tidak terdapat pada perintah zakat di zaman Rasulullah

•      Sanksi orang yang enggan membayar Zakat
–     Dunia:
•      Ta’zir
•      Hartanya dirampas paksa oleh negara
•      Abu Bakar memerangi orang yang enggan membayar zakat.
–     Akhirat ;
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ ، مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ ، لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ - يَعْنِى بِشِدْقَيْهِ - يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ » . ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ ( وَلاَ يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ . رواه البخ
•      Rukun Zakat
–     Muzakki
–     Mustahiq
–     Mengeluarkan (tamlik) bagian harta
–     Niat
•      Syarat-Syarat Zakat
–     Syarat wajib
–     Syarat shah
•      Syarat wajib
–     Islam
–     Balig
–     Berakal
–     Merdeka
–     Harta termasuk kekayaan yang wajib dizakatkan
–     Harta mencapai nisabnya
–     Milik yang sempurna (penuh)
–     Mencapai haul (sampai setahun)
–     Tidak mempunyai hutang yang mengurangi nisab
–     Melebihi dari kebutuhan pokok
•      Syarat wajib (Uraian)
–     Islam
•      Asy-Syafi’iyah mewajibkan bagi orang murtad atas hartanya yang diperoleh sebelum murtad (di dia saat muslim). Sedangkan harta yang diperolehnya selama murtad adalah mauquf, bila dia kembali kepada Islam dizakatkan, tapi kalau  dia tidak kembali maka tidak kewajiban baginya menzakat hartanya.
•      Menurut Abu Hanifah orang murtad gugur segala keawajibannya, sama dengan orang kafir.
–     Balig dan Berakal
•      Kedua syarat ini dipakai oleh Abu Hanifah.
•      Jumhur tidak mensyaratkannya. Wajib zakat atas harta anak-anak dan orang gila. Zakat ini dikeluarkan oleh walinya.
•      عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ « أَلاَ مَنْ وَلِىَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ فِيهِ وَلاَ يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ ». رواه الترمذي
–     Merdeka
•      Jumhur mewajibkan bagi pemilik budak menzakatkan harta budak tersebut, karena harta tersebut termasuk miliknya
•      Malikiyah tidak mewajibkan harta budak, baik bagi tuannya maupun bagi dirinya, karena kepemilikanya tidak sempurna
–     Harta termasuk kekayaan yang wajib dizakatkan
•      Mata Uang (emas dan Perak)
•      Hasil tambang dan rikaz
•      Harta perniagaan
•      Tanaman dan buah-buahan
Binatang ternak
    1. Harta mencapai nisabnya
      1. Nisab adalah ukuran yang ditetapkan syara’ untuk dikenai kewajiban zakat terhadap masing harta kekayaan
    2. Milik yang sempurna (penuh)
      1. Ulama berbeda pendapat tentang maksud milik, apakah milikul yad, atau milik tasharruf, atau asal milik
    3. Mencapai haul (sampai setahun)
    4. Tidak mempunyai hutang yang mengurangi nisab
    5. Melebihi dari kebutuhan pokok
  1. Syarat mustahiq
    1. Muslim
    2. Bukan orang yang wajib dinafkahi
    3. Baliq
    4. Berakal
    5. Merdeka
  2. Waktu Wajib Zakat
    1. Ulama sepakat menyegerakan membayar zakat setelah terpenuhi syaratnya.
    2. Berdosa menundanya tanpa adanya uzur syar’i
  3. Waktu membayarkan zakat
    1. Zakat Emas, perak, perdagangan dan binatang ternak dikeluarkan setelah sampai haulnya, setiap tahun.
    2. Zakat tanaman dan buah-buahan dikeluarkan setiap panen, walaupun berulang dalam satu tahun.
      1. Hanafiyah tidak mensyaratkan nisab.
Jumhur Ulama mensyaratkan nisab.
•      Membayarkan zakat sebelum waktunya
–     Ulama sepakat  zakat tidak dikeluarkan sebelum mencapai nisab.
–     Namun bila sudah mencapat nisab, tapi belum setahun, ulama berbeda pendapat:
•      Jumhur membolehkan dan hukumnya sunat,
•      عَنْ عَلِىٍّ أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِى ذَلِكَ.رواه
Malikiyah dan Zahiriyah tidak membolehkan mengeluarkan zakat sebelum datang haulnya, karena zakat ibadah yang menyerupai shalat, tidak boleh melaksanakan sebelum waktunya
•      Rusaknya harta sesudah wajib zakat, sebelum dibayarkan
•      Hanafiyah ;tdk ada kewajiban zakat. Gugur, krn yg wajib mrpkn bagian dari nisab.gugurnya harta, gugur kewajiban.
•      Jumhur ; tk gugur kewajiban zakat.
•      Maal al-mustafad
•      Harta al-mustafad adalah harta yang diperoleh di luar harta pokok, seperti: hibah, shadaqah, waris, dll.
•      Jumhur:
•      Digabungkan ke dalam nisab harta yang telah ada, bila ia sejenis.
•      Bila tidak sejenis tidak digabungkan. (ittifaq)
•      Harta tsb spt laba dalam perdagangan atau anak binatang ternak yang dilahirkan.
•      Haulnya mengikuti harta pokok.
•      Asy-Syafi’iyah
•      Harta al-mustafad tidak digabung haulnya (tahun) ke dalam harta asal (pokok).
•      Dimulai dengan haul yang baru, dihitung dari waktu diperolehnya (haul terdsendiri). Karena dia tidak tumbuh dari harta asal, berbeda dengan laba perdagangan atau anak binatang ternak.
•      Zakat Emas & Perak
•      Nisabnya:
•      Emas 20 mitsqal. Konversi mitsqal Iraqi: 100 gr, mitsqal ‘ajami: 96 gram. Jumhur: 91 23/25 gram
•      Perak 200 dirham, Hanafiyah: 700 gram, jumhur 642 gram.
•      عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم ببعض أول [ هذا ] لحديث قال  : " فإذا كانت لك مائتا درهم وحال عليها الحول ففيها خمسة دراهم وليس عليك شىء يعني في الذهب حتى يكون لك عشرون دينارا فإذا كان لك عشرون دينارا وحال عليها الحول ففيها نصف دينار فما زاد فبحساب ذلك
•      Penggabungan
•      Jumhur: digabung satu sama lain, karena mas dan perak ini dianggap sejenis.
•      Asy-Syafi’iyah: tidak digabung, masing-masing
•      Prosentase zakatnya: 2.5 %
•      Malikiyah: Emas dari emas, perak dari perak, boleh bersilang, boleh dikeluarkan nilainya
•      Asy-Syafi’iyah: tidak boleh disilang mengeluarkannya, dan tidak boleh nilainya.
•      Kelebihan dari nisab
•      Hanafiyah: Keebihan dari nisab sebelum mencapai 40 dirham tidak wajib zakat. Bila sudah 40 dirham dikeluarkan 1 dirham. Kelebihan dinar dihitung bila sudah sampai 4 dinar
•      Jumhur ulama dan dua shahabat Abu Hanifah: kelebihan nisab dihitung zakatnya walaupun kelebihan itu sedikit.
•      عن علي رضي الله عنه قال زهير أحسبه عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال: " هاتوا ربع العشور من كل أربعين درهما درهم وليس عليكم شىء حتى تتم مائتي درهم فإذا كانت مائتي درهم ففيها خمسة دراهم فما زاد فعلى حساب ذلك وفي الغنم في كل أربعين شاة شاة فإن لم يكن إلا تسع وثلاثون فليس عليك فيها شىء”. رواه أبو داود
•      Emas atau Perak yang dicampur
•      Hanafiyah: bila yang dominan emas dizakatkan emas, bila dominan perak dizakatkan perak. Bila dominan logam selain emas dan perak dizakatkan menurut harta perniagaan.
•      Malikiyah: diwajibkan zakat bila timbangan emas atau perak yang dicampur itu mencapai nisab. ?
Asy-Syafi’iyah dan Hanabalah: Tidak wajib zakat pada emas dan perak yang dicampur kecuali yang murninya mencapai nisab yang sempurna
•      Emas perhiasan
–     Perhiasan perempuan, perhiasan rumah, perhiasan laki-laki
•      Zakat barang tambang dan rikaz
–     Ulama berbeda pendapat tentang:
•      Pengertian
•      Jenis yang wajib dizakatkan
•      Nisab
•      Kadar (ukuran) zakat yang harus dikeluarkan
•      Hanafiyah
–     Ma’adin (barang tambang) dan rikaz sama, bedanya hanya:
•      Ma’adin sudah diciptakan Allah semenjak awal bumi diciptakan.
•      Rikaz harta yang disimpan dalam tanah oleh orang kafir
–     Ma’adin ada tiga macam:
•      Benda padat yang perlu diolah dengan api, seperti: emas, perak, besi, tembaga, dll. (wajib zakat)
•      Benda padat yang tidak perlu diolah dengan api, seperti: seperti batu permata (tidak wajib)
•      Benda cair, seperti : aspal dan minyak tanah (tidak wajib)
–     Ma’adin yang wajib dizakatkan hanya bentuk pertama, tanpa ditentukan nisab, dan dikeluarkan seperlima (20%) sama dengan ghanimah.
–     Bila ada tanda-tanda milik orang Islam statusnya menjadi luqathah (barang temuan).
Permata, mutiara dan semua perhiyasan yang dikeluarkan dari laut tidak dizakatkan, karena dia bukan ghanimah, kecuali bila barang-barang tersebut  diperuntukkan untuk jual beli atau perdagangan
•      Malikiyah
–     Ma’adin beda dengan rikaz
–     Ma’adin adalah sesuatu yang diciptakan Allah dalam bumi, seperti emas, perak, tembaga dan lain-lain.
–     Kepemilikan ma’adin ada tiga macam:
•      Ma’adin itu berada di tanah yang tidak dimiliki seseorang. Statusnya adalah milik negara, bukan milik pribadi. Digunakan untuk kepentingan umat.
•      Ma’adin berada di tanah yang dimiliki oleh seseorang. Statusnya juga milik negara, tidak diperuntukkan untuk pemilik tanah. Kecuali, ada pendapat yang mengatakan ma’adin tersebut menjadi milik sipemilik tanah.
•      Ma’adin berada di tanah yang dimiliki, tetapi bukan oleh seseorang tertentu
–     Kesimpulan: ma’adin secara mutlak milik imam (negara), kecuali tanah yang diperoleh dengan perdamaian selama penduduknya kafir.
•      Rikaz, kepemilikannya:
–     Di peroleh di padang pasir dari simpanan orang jahiliyah. Menjadi milik orang yang mendapatkan.
–     Diperoleh di tanah yang dimiliki. Menjadi milik orang yang punya tanah, bukan milik orang yang mendapatkan.
–     Diperoleh dari dalam tanah ta’lukan. Menjadi milik orang yang mendapatkannya
–     Diperoleh dari dalam tanah hasil perdamaian. Menjadi milik yang memperolehnya.
–     Hal di atas disebut rikaz selama tidak ada cap atau tanda milik orang muslim. Akan tetapi bila ada cap atau tanda milik orang muslim harta tersebut menjadi luqathah (barang temuan)
–     Zakatnya seperlima (20%),
•      baik emas, perak atau yang lain
•      Baik penemunya muslim atau tidak
•      Dikeluarkan seperlima untuk kemaslahatan umum seperti ghanimah
•      Kecuali bila pekerjaannya berat atau biaya yang banyak, hanya wajib dikeluarkan seperempat puluh (2.5%) diberikan kepada yang mustahiq zakat.
•      Tidak disyaratkan nisab
–     Tidak wajib dizakatkan pada sesuatu yang terdapat  dalam laut, selama tidak dimiliki oleh seseorang, seperti mutiara, permata dan ikan, karena asal kepemilikannya mubah.
•      Asy-Syafi’iyah
–     Ma’adin tidak sama dengan rikaz
–     Ma’adin adalah sesuatu yang dikeluarkan dari tempat yang diciptakan Allah,
•      khusus emas dan perak, tidak termasuk batu permata, tembaga, besi, dll
•      Dikeluarkan zakatnya seperempatpuluh (2.5%)
•      Baik diperoleh di tanah yang mubah atau di tanah budak milik muslim
•      Sampai senisab
•      Tidak disyaratkan haul
–     Rikaz adalah barang simpanan orang jahiliyah dalam tanah
•      Khusus emas dan perak
•      Zakatnya seperlima (20%)
•      Tanpa haul, Dikeluarkan di saat mendapatkannya
•      Diberikan kepada mustahiq zakat
–     Bila tidak ada tanda kepemilikan orang jahiliyah, tapi yang  ada tanda kepemilikan orang muslim, atau tidak diketahui jahili atau islaminya, maka harta tsb diserahkan kepada pemiliknya jika diketahui. Jika tidak diketahui pemiliknya dia menjadi luqathah. Orang yang mendapatkan harus mengumumkan terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa dimilikinya.
–     Bila rikaz itu di tanah yang dimiliki seseorang atau  tanah yang diwakafkan, maka ia menjadi miliknya jika dia mendakwakan tanpa perlu sumpah. Bila tidak ada yang mendakwakan maka dia menjadi milik bagi pemilik tanah sebelumnya.
–     Bila diperoleh rikaz di masjid atau di jalan raya maka ia termasuk luqathah
•      Hanabalah
–     Ma’adin tidak sama dengan rikaz
–     Ma’adin adalah sesuatu yang dikeluarkan dari bumi yang diciptakan Allah. Ia bukan sesuatu yang disimpan, baik benda padat maupun benda cair
–     Kepemilikannya:
•      Benda padat seperti emas, perak dan tembaga dimiliki oleh pemilik tanah, karena ia merupakan bagian dari tanah tersebut dan dialah yang lebih berhak
•      Benda cair seperti: minyak tanah dan sebagainya maka ia termasuk harta mubah.
–     Ma’adin yang wajib dizakatkan:
•      Seluruh harta yang dikeluarkan dari bumi, baik padat maupun cair.
•      Mencapai nisab: 20 mitsqal dan 200 dirham atau senilainya bila besi, tembaga, minyak tanah  dll
•      Dikeluarkan  seperempat puluh (2.5%)
•      Tanpa haul, dikeluarkan segera di waktu memperolehnya.
•      dikeluarkan sesudah dilebur/ dicetak atau dibersihkan
–     Ma’adin yang berasal dari laut seperti mutiara, ikan, dll, tidak diwajibkan mengeluarkan zakatnya.
–     Rikaz :
•      Simpanan orang jahiliyah atau orang kafir dalam tanah yang diambil pada masa Islam, sedikit atau banyak
•      Segala jenis / bentuk yang dikategorikan sebagai harta, seperti emas, perak, besi, tembaga, dll.
•      Dikeluarkan seperlima (20%)
•      Diberikan ke baitul mal
•      Untuk kemashlahatan umum seperti ghanimah
•      Sisanya untuk orang yang mendapatkannya
•      Bila berada di tanah orang kafir, bila dapat dikuasai secara bersama-sama maka ia menjadi ghanimah
•      Wajib zakat atas orang yang memperolehnya, baik muslim atau kafir zimmi, merdeka atau budak, dewasa atau anak-anak, orang berakal atau gila.
•      Bila ada tanda-tanda Islam ia menjadi luqathah
Zakat perdagangan
•      Pengertian
–     Semua benda/barang / harta, selain emas dan perak, yang diperuntukkan sebagai perdagangan, baik barang bergerak maupun barang tetap.

•      Syarat-Syaratnya
1.      Sampai senisab
2.      Sampai setahun (Syafi’yah: Nisab di akhir tahun, Hanabalah: sepajang waktu dalam setahun)
3.      Barang tersebut diniatkan untuk diperdagangkan ketika membeli.
4.      Barang dagangan merupakan barang yang diperoleh dengan pertukaran (jualbeli/sewa) (jumhur selain Hanafiyah)
5.      Barang tersebut tidak dipakai (asy-Syafi’iyah, Hanabalah, Malikiyah)
6.      Seluruh barang tersebut tidak menjadi uang di pertengahan tahun yang kurang senisab (asy-Syafi’iyah).
Barang tersebut bukan barang/harta yang sudah ditentukan zakatnya (Malikiyah
•      Menilai barang dagangan, ukuran wajib dan cara menghitung
–     Dihitung pada akhir tahun menurut harga di saat mengeluarkan zakat, bukan berdasarkan harga beli. (jumhur)
–     Syafiiyah: nisab dihitung dengan harga disaat dibeli.
–     Semua barang dagangan digabung menghitungnya satu sama lain, walaupun berbeda jenisnya
–     Keluarkan zakat seperempat puluh (2.5%)
•      Cara menghitung
–     Jumhur (selain Syafi’iyah):
•      Dihitung di akhir tahun
•      Dihitung semua barang dagangan
•      Dihitung nilai / harganya sesuai dengan harga sekarang
•      Dinilai nisabnya dengan emas atau perak, sesuai dengan yang menguntungkan bagi fuqara’
•      Dikeluarkan seperempat puluh (2.5%)
•      Dihitung sesuai harga pembelian (Syafi’iyah)
–     Zakat Perdagangan = ( Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan ) –
(hutang-kerugian) x 2,5 %
•      Apakah boleh mengeluarkan zakat dari barang dagangan tersebut ?
–     Hanafiyah: Boleh memilih, apakah yang akan dikeluarkan itu barang dagangan itu sendiri atau senilainya (qimat)
–     Jumhur: wajib mengeluarkan nilainya (qimat)
•      Menggabungkan keuntungan, pertumbuhan dan barang lain yang bukan diperdagangkan kepada asal harta (modal).
–     Sepakat ulama: Keuntungan digabungkan dengan modal dalam dalam tahun berjalan.
–     Harta al-mustafad (yang diperoleh dipertengahan tahun, seperti: warisan, hibah, dll)
•      Hanafiyah : al-mustafad selain dari yang diperdagangkan digabungkan ke dalam harta asal.
•      Jumhur ulama : al-mustafad selain dari yang diperdagangkan tidak digabungkan ke dalam harta asal. Haulnya dihitung tersendiri semenjak dimiliki.
•      Cara mengeluarkan Zakat perdagangan menurut Malikiyah
–     Padagang ada tiga macam
•      Pedagang muhtakir: Pedagang yang membeli barang dan menunggu harga naik. Dia tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali setelah barangnya terjual.
•      Pedagang mudir: Pedagang yang menjual dan membeli tanpa menunggu waktu dan tidak pula menentukan haul. Dia menetapkan satu bulan tertentu untuk menghitung uang dan barang-barang yang ada padanya. Bila sampai senisab dia mesti mengeluarkan zakatnya. Dia membuat perhitungan setiap tahun atas barang-barangnya, walaupun dia merugi, selama barang itu ada bersamanya beberapa tahun.
Pedagang muhtakir sekaligus mudir
•      Zakat Syirkah Mudharabah
–     Hanafiyah: masing-masing pemilik harta dan pekerja menurut saham dan keuntungannya setiap tahun.
–     Malikiyah: Bila harta mudharabah itu berada di negri si pemilik modal wajib atasnya mengeluarkan zakat modal tersebut dan keuntungan yang menjadi bagiannya sebelum dipisahkan. Sedangkan si pekerja mengeluarkan zakat keuntungan yang diperolehnya setelah dipisah dalam satu tahun.
–     Asy-Syafi’iyah: Pemilik harta menzakatkan modal dan keuntungan yang menjadi bagiannya. Sedangkan pekerja menzakatkan pula keuntungan yang diperolehnya.
–     Hanbali: pemilik harta mengeluarkan zakat atas modal harta dan keuntungan yang diperolehnya. Pekerja tidak mengeluarkan zakat keuntungan yang telah dibagi waktu itu. Dari keuntungan yang diperolehnya tsb dimulai haul baru.
  1. Hanafiyah  :tambang/rikaz
Ma’adin dan Rikaz dalam makna yang sama.
Ma’adinn ada 3 macam
    1. Dsda  (wajib zakat)
    2. Sdad (tidak wajib)
    3. Asda (tidak wajib)
Semua yang  yang disimpan dalam tanah, bedanya: barang tambang  sudah diciptakan Allah semenjak bumi diciptakan, sedangkan rikaz simpanan orang kafir.
Semua benda padat yang perlu diolah dengan api.
Disamakan dengan ghanimah
Nisab/ haul
  1. Tambang: nisab
  2. Rikaz: tanpa nisab,Tambang & rikaz: 20%

Malikiyah :
Tambang/ rikaz
Emas dan Perak dan yang lain
Emas, perak dan selainnya
  1. Tambang: nisab, tanpa haul
  2. Rikaz : tanpa nisab dan haul
Nisab /haul
  1. Tambang: 2.5%
  2. Rikaz: 20%, Rikaz :2.5% bila diusahakan dengan berat

Asy-Syafi’iyah
Emas dan perak,.Emas dan perak
  1. Tambang: nisab, tanpa haul
  2. Rikaz: nisab, tanpa haul

  1. Tambang: 2.5%,
  2. Rikaz: 20%

Hanabalah
Seluruh jenis benda padat dan benda cair
Segala yang dikategorikan sebagai harta termasuk yang diperoleh dipermukaan tanah
  1. Tambang: nisab, tanpa haul
  2. Rikaz:  tanpa nisab, tanpa haul
  3. Tambang: 2.5%
  4. Rikaz:  20%

Comments

Popular posts from this blog

Makalah Filsafat Hukum Islam #terbaru 2020

Contoh Surat Lamaran Kerja Pengadilan Agama/Negeri-2020

Makalah Tentang Qaidah Fiqhiyah 2018